Pradita Utama
Pradita Utama
VP of Information Technology at Biznet Networks
Jul 24, 2018 7 min read

Kerja di Korporasi atau Startup? - Bagian Pertama

thumbnail for this post

“Budak Korporasi” Kata orang

PERHATIAN

Saya berusaha netral dan tidak menjelek-jelekan atau mempromosikan perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya dan saat ini. Jika ada kalimat yang menyinggung di tulisan ini, saya mohon maaf.

Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili pandangan entitas perusahaan yang disebutkan di tulisan ini.

Tulisan ini juga akan sangat panjang dan membosankan bagi beberapa orang.

TLDR; — bagian pertama

Lingkungan kerja di korporasi besar yang kaku mungkin bukan untuk semua orang, tapi memberikan rasa aman terhadap penghasilan dan karir dengan beberapa hal yang harus kita korbankan disana sini (waktu kerja, office politics, freedom of speech (and fashion), dsb).

Pada hari pertama saya wisuda, saya sudah berstatus pekerja profesional. Bahkan hingga saat ini saya tidak pernah menggunakan ijasah saya untuk melamar pekerjaan.

PT Telkom Indonesia (2005–2008)

Pekerjaan profesional saya pertama pada tahun 2006 menjadi developer di departemen IT PT Telkom Indonesia, di Bandung. Saat itu saya mengerjakan berbagai macam software berbasis website untuk keperluan internal PT Telkom dan eksternal PT Telkom. Status saya adalah Mitra Kerja atau out source. Saat itu saya belum lulus kuliah, bahkan saya lulus 2 tahun kemudian. Kenapa saya bisa bekerja sebelum lulus? bisa dibaca di tulisan saya sebelumnya

https://www.praditautama.com/posts/kuliah-bekerja-atau-kuliah-sambil-bekerja/

Bagaimana suasana bekerja di PT Telkom saat itu? Karena ini adalah pekerjaan profesional saya pertama kali, saya tidak bisa menilai dan membandingkan banyak hal. Datang, coding, dan dibayar (bahkan belum lulus kuliah) itu adalah hal luar biasa bagi saya.

Saat itu rekan kerja saya berumur diatas 30 tahun, berkemeja, kadang berdasi, bercelana bahan, sepatu pantofel. Tipikal salaryman yang jam 8 pagi datang kemudian mendengarkan Mars Telkom Indonesia dari pengeras suara di langit-langit dan di jam 5 sore hampir seluruh karyawan pulang ke rumah masing-masing.

Di ulang setiap hari senin hingga jumat selama tanggal tersebut berwarna hitam. Jelas, kecuali sakit, cuti, atau cuti bersama.

Tidak seperti ini juga, tapi ya ketemu ini di Pexels. I hope you got the point lah Tidak seperti ini juga, tapi ya ketemu ini di Pexels. I hope you got the point lahMars Telkom Indonesia

Jobs desc saya? coding sesuai requirement. Project-based. Banyak proyek yang saya selesaikan sendiri, ya sendiri. Saat itu saya benar-benar fullstack developer dari membuat frontend sampai membuat dokumentasi software.

Saat itu frontend gak semudah sekarang yang hanya tinggal npm install, npm update, pilih versi lebih tinggi jika ada deprecated functions, versi lebih rendah jika ada function yang tidak compatible. Dibanding dulu yang harus include script di server kita dan memastikan scriptnya ada. Jika ada update versi di script atau library, tidak usah dipikirkan, website kita akan deprecated dengan sendirinya.

Iya benar, saya cuma sarkasme aja kok.

Pengalaman terbaik waktu itu adalah saya jadi tahu membuat software itu tidak hanya harus jadi, tapi berguna dan mempunyai performance yang sangat baik, terutama keamanan.

PT Bakrie Telecom / Esia (2008–2010)

Sumber: koleksi pribadi Sumber: koleksi pribadi

Sekitar dua tahun saya di PT Telkom Indonesia, ada teman saya memberi kabar jika PT Bakrie Telecom membuka lowongan menjadi developer. Langsung saya coba apply.

Saat tulisan ini dibuat, Tegar Raharditya, menjadi Head of Quality Engineering di startup bernama Bizzy. Personally saya berterima kasih kepada beliau. Tegar yang menawarkan lowongan tersebut ke saya.

Saya mengikuti proses dari awal interview hingga tes. Alhamdulillah saya lolos dengan menjadi karyawan tetap dan gaji yang saat itu bisa dibilang cukup untuk saya yang single dan bahkan saya tinggal kos di Jakarta.

Suasana kerja di Esia sangat cepat tapi friendly. Senin sampai jumat memakai seragam Esia.

Masuk kerja harusnya jam 8.00 pagi, tetapi waktunya agak fleksibel untuk departemen IT. Kadang ada yang datang jam 9.00 atau jam 10.00 dan pulang agak malam.

Mindset kami waktu itu, Esia adalah Budget Telecommunication Operator. Kita tidak mudah mendapatkan budget untuk membeli tools yang canggih dan kekinian (pada saat itu).

Jika bisa membuat sendiri, kita buat sendiri.

Bahkan dulu ketika Facebook belum memiliki Facebook API, seorang General Manager datang ke meja saya dan bilang “Flexi sedang ada proyek membuat update status Facebook pakai SMS, kamu bisa bikin gak?”

Ditanya seperti itu, jiwa DIY saya keluar. Dalam waktu 1 malam saya berhasil membuat demo update status Facebook pakai SMS!

Kenapa SMS? saat itu ponsel pintar belum banyak, paling canggih Symbian di Indonesia.

Ponsel Esia Ngoceh Ponsel Esia Ngoceh

Ponsel → SMSC → Oracle Database → Crontab → PHP Script → cURL ke Facebook → response → billing → send SMS ke user → finish

Kira-kira seperti itu flow datanya. Bahkan saya Raise The Bar, saya buat tidak hanya Facebook tapi bisa untuk Twitter!

Selama di Esia, banyak sekali proyek dan produk yang dibuat sendiri tanpa vendor atau tools berbayar. Bahkan USSD / UMB (Menu *123*blabla#) saat itu dibuat menggunakan PHP dan XML. Sedangkan solusi berbayar dari vendor sudah banyak ada dengan harga sekian juta dollar.

Semua proses planning dan development dilakukan sangat cepat, tidak banyak birokrasi dan organisasi terlihat seperti flat.

Sekarang, di 2018, saya berani menyebut PT Bakrie Telecom saat itu adalah Startup. Cost selalu dipikirkan dan ditekan tanpa harus mengorbankan banyak kualitas dan fitur suatu produk. Tetap, kompromi selalu ada. Dan itu terjadi di tahun 2008, sekitar 10 tahun ketika tulisan ini dibuat.

Kemudian di 2010 saya terpaksa keluar selain ada tawaran yang lebih baik juga tentang office politics.

Ya, office politics. Sebagai profesional software developer seharusnya saya bersih dari itu. Tapi ketika kita merasa ada ketidakadilan di depan mata dan bahkan leader kita sendiri yang terbuka bercerita, kemudian merugikan karir kita sendiri, sepertinya idealisme moral dan nurani yang berbicara. Bukan lagi soal kita hebat di JavaScript, tapi hati.

Bekerja di Korporasi, harus siap dengan office politics.

PT XL Axiata (2010–2016)

XL Axiata ulang tahun ke-16. Sumber: koleksi pribadi XL Axiata ulang tahun ke-16. Sumber: koleksi pribadi

Ini adalah salah satu career change saya yang terbesar dan mungkin di luar nalar. Dilandasi kemarahan (dan tawaran gaji lebih baik tentunya) saya pindah ke XL Axiata bukan sebagai developer atau di departemen IT.

Saya masuk XL Axiata sebagai Finance Business Analyst di direktorat Finance.

Kok bisa? sebenarnya job desc bukan murni Finance tapi saya bertanggung jawab menggunakan dan mengembangkan beberapa tools dan software finance seperti SAP. Sesekali juga menggunakan kemampuan scripting saya untuk menarik data dari database tim lain dan diolah menjadi laporan.

Saya ingat pesan dosen saya,

“Engineer itu harusnya bisa membuat hal yang sulit dan berulang menjadi mudah dengan teknologi dan kemampuannya.” — Dosen Saya di Kampus

Setelah beberapa tahun, 5 tahun bahkan, saya mulai kawatir dengan karir. Setiap orang hanya tahu saya “orang finance”, padahal saya adalah benar-benar software developer. Sulit ketika saya harus kembali ke dunia IT dan saya harus kembali.

Suatu hari ada lomba programming yang boleh diikuti oleh seluruh karyawan kecuali departemen IT.

Saya ikut dan menang juara 1! dapat hadiah MacBook Air.

Orang finance juara satu lomba programming Orang finance juara satu lomba programming

Beberapa pihak terkejut ada juara 1 dari Finance. Apakah yang menang ini bekerja tidak sesuai keahliannya? atau otodidak “orang finance” belajar algoritma dan pemrograman?

Entah berita kemenangan ini sampai petinggi HRD dan CEO, tapi setelah saya juara ternyata saya wajib pindah ke departemen IT menjadi Tech Lead!

Di departemen baru saya mulai coding dan deliver somethings.

Hanya saya ada satu hal yang saya perhatikan saat itu, untuk sebuah perubahan atau produk butuh proses yang sangat panjang. Bisa terjadi banyak meeting dengan berbagai pihak yang berkepentingan (Finance, IT, Sales, Marketing, Direktur, dsb).

Hal yang bagus di satu sisi, tapi dari perspektif Agile ini kurang asik sedangkan persaingan antara perusahaan telekomunikasi semakin ketat dan cepat.

Mungkin karena organisasi yang sangat besar. XL Axiata di tahun 2016 mempunyai karyawan sekitar 2000 orang.

Tapi to be honest, sepanjang karir, XL Axiata adalah perusahaan yang mempunya manfaat asuransi, tunjangan, dan bonus yang paling baik. Contoh, saya operasi kaki menghabiskan Rp 120 juta dan 100% ditanggung asuransi. Dua anak saya lahir secara Caesar juga saya hanya menambahkan sebagian kecil dan banyak manfaat kesehatan untuk keluarga. Bahkan ada tabungan pensiun (DPLK) yang bisa dicairkan ketika keluar dari perusahaan.

Setelah hampir 7 tahun saya di XL Axiata, saya keluar dari XL Axiata. Tulisan bagian kedua ada disini https://www.praditautama.com/posts/kerja-di-korporasi-atau-startup-bagian-kedua/

comments powered by Disqus